Sabtu, 30 November 2013

Menggugat Kesaksian Jusuf Kalla soal Century


Keriuhan soal kasus Bank Century terus bergulir hingga saat ini. Tensinya semakin panas, apalagi menjaleng pemilu 2014. Kondisi ini wajar saja mengingat mereka yang diduga terlibat tidak berada jauh dari atau berada dalam lingkaran kekuasaaan. Geliat KPK yang mulai terlihat semakin fokus mengusut kasus ini menambah level tensi yang ada.


Ada beberapa tokoh yang ikut diperiksa bebrapa pekan terakhir. Diantaranya Wakil Presiden Boediono dan Mantan Wapres Jusuf Kalla. Pasca diinterogasi KPK sebagai saksi untuk kasus Century, Jusuf Kalla membuat artikel berjudul “Century, Skandal Perampokan Sistemik” di pasar blog Kompasiana, 28 November 2013.


Salah satu poin yang disinggung Jufuf Kalla adalah soal waktu pengucuran dana bailout. Menurutnya, rapat KKSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan), penetapan dana bailout Century dilakukan pada hari Jumat-Sabtu (21-22 November). Dan uang juga dikeluarkan pada hari Sabtu.


Kalla pun mempertanyakan “Saya bingung juga, mengapa uang dikeluarkan hari Sabtu-Minggu? Mau kemana uang dikeluarkan hari Sabtu? Bukannya bank-bank tidak ada yang buka? Lari kemana uang itu?. Kalla melanjutkan “Senin bingung, kenapa tiba-tiba keluar 2,7 triliun. Padahal yang disetujui menurut apa yang dilaporkan ke saya adalah 630 milyar. Selasa bingung. Rapat lagi.” (Lengkapnya baca di sini sini).


Namun, keterangan Jusuf Kalla tersebut dibantah oleh pihak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). “Tidak ada transfer Sabtu-Minggu, transfer pertama dilakukan pada hari Senin, 24 November 2008, melalui mekanisme perbankan biasa transfer ke rekening Century di Bank Indonesia via Bank Rakyat Indonesia.” Begitu kata Sekretaris dan juru bicara LPS, Samsu Adi Nugroho. (sumbernya di sini).


Keterangan LPS sejalan dengan data dari BPK yang dilansir oleh KATADATA. “Dalam dokumen laporan hasil pemeriksaan lanjutan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang dirilis pada 22 Desember 2011 disebutkan bahwa transfer pertama kali dilakukan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada Senin, 24 November 2008. Bukan Sabtu dan Minggu, seperti dituduhkan Kalla. Jumlah dana yang ditransfer pada hari itu pun hanya Rp 1 triliun, bukan Rp 2,7 triliun seperti juga disebutkan Kalla.” (Kalau mau data yang lebih lengkap soal ini bisa dibaca di sini).


Kalau merujuk informasi LPS dan KATADATA, lantas wajarkah kita mempertanyakan kejujuran Jusuf Kalla? Saya kira wajar saja. Saya pribadi cenderung lebih mempercayai data BPK daripada kesaksian Jusuf Kalla. Kalau bicara soal bukti, kita mesti “speak by data”, bukan berdasarkan info dari mulut ke mulut atau asumsi.


Kesaksian Kalla, khusus yang saya kutip di atas, menurut saya memang ngawur. Namun, keterangan yang dinilai ngawur tersebut tidak serta merta mementahkan penilaian Kalla bahwa kasus Century itu adalah bentuk perampokan sistemik. Bisa saja memang terjadi perampokan sistemik. Bisa juga sebaliknya. Biarlah KPK yang menjawab dan membuktikan kebenarannya.


Hanya saja, kita sebagai rakyat perlu bersikap. Kita sebaiknya mengambil jarak dan bersikap kritis terhadap informasi para elite seperti Jusuf Kalla. Jangan pernah telan mentah-mentah, atau bahkan menganggapnya sebagai kebenaran. Sikap kritis yang sama juga mesti kita tujukan ke anggota DPR yang masuk dalam Tim Pengawas Bank Century. Saya pribadi muak dengan sikap beberapa anggota Timwas yang bersikap seperti aparat penegak hukum. Berhati-hatilah dengan geliat busuk dan manipulatif para elite politik.


Kita berharap, KPK cepat menuntaskan kasus Century ini. Biar tidak menjadi “komoditas politik” busuk para elite politik. Semoga lembaga antirasuh ini bekerja dengan benar. Tidak terperangkap dalam dinamika dan arus politik yang kotor.



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/menggugat-kesaksian-jusuf-kalla-soal-century-614711.html

Avanza Irit Bahan Bakar Walau dipakai Non Stop


Ini adalah pengalamanku pertama sekali mengendarai Avanza keluar kota, walau Avanza yang kupunya tahun 2005 tapi keunggulannya tidak diragukan lagi.


Pernah suatu hari saya beserta keluarga akan melakukan perjalan jauh yaitu keluar dari kota Medan menuju Aceh tepatnya Kota Langsa terus menuju Lhokseumawe untuk bersilaturrahmi. Saya hanya mengisi bensin satu kali yaitu sebanyak 200 ribu ya kebetulan memang saat itu bensin sudah berada dikisaran Rp.6500/liternya, Istri saya komplain ” Mas apa cukup bensin segitu, ini perjalanan jauh jangan sampai kita mogok ditengah jalan bisa bahaya ini, apalagi mogoknya sampai ditengah hutan gawat mas, bukan masalah dengan hewan buas tapi takutnya ada OTK yang masih merampok pakai senjata bisa mati kita mas!” terasa kekuatiran istriku sangat berlebihan. Tapi sebagai suami yang bijaksana kukatakan, ma tak perlu panik ini mobil avanza bukan mobil merek lainnya yang pernah mama kenal, ayah tahu kualitas mesin dan keiritannya sudah terbukti, bukan omong kosong. Istrikupun merasa agak tenang dan tak kuatir lagi.


Kamipun mulai melewati kawasan daerah Aceh selama empat jam sekitar daerah Pangkalan Berandan, terus menuju kota Langsa ya singgah sebentar di daerah Jalan Makam Pahlawan untuk bertemu dengan Famili, dua jam kemudian kami melanjutkan perjalanan kekota Lhokseumawe yang menempuh perjalan empat jam lagi kulihat meteran minyak hanya lewat tiga garis aku benar benar gak habis pikir apa meterannya rusak kali tapi setelah kami melewati daerah Lhokseumawe kulihat meteran bergerak setengah garis lagi baru aku percaya bahwasanya meterannya normal tidak rusak.


Setelah sampai di kota Lhokseumawe kamipun singgah dirumah bibik yang kebetulan ada acara arisan keluarga.


Kurang lebih tiga jam dari rumah kamipun pamit untuk pulang dan langsung menuju Medan dengan kecepatan sedang tapi karena tidak ingin membuat istriku lebih panik karena meteran mendekati rest maka kuisi lagi bensin Rp. 100.000, lagi baru istriku lega itupun perjalanan kurang dari dua jam lagi menuju Medan. Sesampainya di rumah aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan bahwa aku dan keluarga selamat semuanya.


Benar-benar pengalaman yang sangat fantastis buat saya dan keluarga bersama Avanza. Untuk informasi mengenai Avanza dan pembeliannya bisa anda kunjungi link http://www.toyota.astra.co.id/product/avanza/



sumber : http://teknologi.kompasiana.com/otomotif/2013/12/01/avanza-irit-bahan-bakar-walau-dipakai-non-stop-614704.html

Erick Thohir Jadi “Presiden” di Negara Lain


1385874526428390567

Erick Thohir (Foto: bbc.co.id)



Menjelang Pemilu 2014, “demam” menjadi kandidat presiden melanda sejumlah tokoh politik di tanah air. Layar televisi, halaman media cetak, maupun laman media elektronik dipenuhi oleh wajah-wajah yang ingin mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia. Beberapa partai politik bahkan membuka ruang penjaringan melalui sebuah event yang dikenal dengan sebutan konvensi calon presiden.


Untuk mewujudkan mimpi memimpin republik ini, sang calon presiden berani mengeluarkan uang untuk memasang iklan diberbagai media. Rakyat seperti dipaksa otaknya dicuci dengan iklan-iklan calon presiden. Kadangkala, iklan sang calon presiden sangat mengganggu para pemirsa televisi dan pengguna internet. Pasalnya, wajah sang calon presiden muncul tiba-tiba dan menutupi topik yang ingin dibaca. Lama kelamaan, bosan juga melihat wajah-wajah itu terus yang muncul di depan kita.


Sebenarnya apa yang ingin dicari tokoh-tokoh itu sampai rela mengeluarkan biaya iklan yang sedemikian besar? Untuk diketahui bahwa penghasilan Presiden Republik Indonesia itu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk iklan perkenalan, proses pencalonan, kampanye, maupun tahapan pemilihan. Istilah orang tua di kampung, lebih besar pasak daripada tiang.


Berapa penghasilan Presiden Republik Indonesia? Seperti dilaporkan The Economist pada Juli 2010 dalam tempodotcom (22/1/2011) ternyata penghasilan Presiden Republik Indonesia per tahun sebesar US$ 124.171 atau setara dengan Rp. 1,12 milyar (dengan kurs pada saat itu). Dengan penghasilan sebesar itu, Indonesia berada diurutan ketiga untuk jumlah penghasilan kepala negara setelah Kenya (US$ 427.886) dan Singapura (US$ 2,18 juta).


Kemudian, berapa biaya politik yang dibutuhkan untuk meraih kursi RI-1? Seorang pengamat ekonomi politik seperti dikutip situs Forbes 20 November lalu memprediksi, bahwa setiap calon presiden di Indonesia minimal harus menyiapkan US$ 600 juta atau sekitar Rp. 7 triliun. Asumsinya, seorang calon presiden minimal harus memperoleh 70 juta suara untuk terpilih. Jika biaya yang diperlukan satu orang pemilih Rp.100 ribu, maka total yang harus dikeluarkan pasangan calon Rp. 7 triliun (dikutip dari detikcom, 28/11/2013).


Membandingkan penghasilan Presiden RI sebesar Rp. 1,12 milyar setahun, katakanlah Wakil Presiden RI juga berpenghasilan Rp. 1,12 milyar pertahun (total penghasilan pasangan ini Rp. 11,2 milyar selama lima tahun), dipastikan mereka mengalami ketekoran besar. Bayangkan, biaya politik yang harus mereka keluarkan, seperti dilaporkan The Economist sebesar Rp. 7 triliun, maka pasangan ini mengalami kerugian sebesar Rp. 6,98 triliun. Adakah manusia sehat yang ingin rugi?


Oleh karena itu, kompasianer harus angkat sepuluh jari dan dua jempol untuk Erick Thohir yang telah berhasil menjadi “presiden” di negara lain dengan total investasi sekitar Rp.4,5 trilyun. Terhitung sejak Jumat (15/11/2013), Erick Thohir resmi menjabat sebagai Presiden Inter Milan menggantikan Massimo Morrati.


Bayangkan, hanya dengan investasi Rp. 4,5 trilyun seorang Erick Thohir bakal disanjung-sanjung melebihi presiden sebuah negara. Sanjungan bukan hanya berasal dari publik sepakbola di Italia, malah publik sepakbola di tanah air mulai menaruh harapan besar kepadanya. Urusan popularitas, klub Inter Milan lebih dikenal orang di dunia dibandingkan dengan negara kita yang makin terpuruk diberbagai sisi.


Saat ini saja Inter Milan sudah berada di papan atas klasemen Liga Italia. Seandainya Inter Milan bisa merangkak lagi ke urutan yang lebih atas, dan menjuarai berbagai kompetisi, Erick Thohir bakal makin populer. Lebih-lebih jika Erick Thohir berhasil menarik pemain-pemain Indonesia untuk “merumput” di Inter Milan, popularitasnya bisa “mengalahkan” popularitas Presiden Republik Indonesia.


Jangan-jangan, langkah berikutnya dari seorang Erick Thohir untuk mengincar kursi RI-1 pada Pemilu 2019? Boleh jadi, karena sepakbola dewasa ini sudah seperti “ideologi.” Siapapun dia, tua, muda, laki-laki maupun perempuan, kalau berbicara tentang sepakbola seperti berbicara tentang masa depannya. Mereka inilah sesungguhnya pemilih potensial yang paling solid.



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/erick-thohir-jadi-presiden-di-negara-lain-615597.html

Menyoal Politik Sahabat (Nabi Muhammad saw)


Setelah Rasulullah saw wafat, ada orang-orang Islam yang sengaja meninggalkan jenazah Rasulullah saw dan berkumpul di Saqifah memilih seseorang untuk dijadikan pemimpinnya. Mereka ini terdiri dari para sahabat senior dari Anshar dan Muhajirin.


Dari Saqifah muncul khalifah Abu Bakar yang memerintah Madinah setelah Rasulullah saw. Abu Bakar bin Abi Quhafah menjadi khalifah hasil musyawarah terbatas di Saqifah Bani Saidah. Setelah Abu Bakar meninggal dunia, Umar bin Khaththab menjadi khalifah didasarkan pada wasiat Abu Bakar yang surat wasiatnya ditulis oleh Utsman bin Affan. Ketika Umar akan meninggal dunia segera membentuk dewan formatur (ahlu al-aqdi wa al-halli) yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf dan memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah Islam setelah Umar. Setelah Khalifah Utsman bin Affan wafat, kaum Muslim Madinah memilih Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah Islam secara langsung di Masjid Nabawi.


Masa khalifah sahabat yang empat tidak ada pola yang baku dalam menentukan cara pengangkatan atau syarat-syarat yang layak untuk menjadi khalifah. Hal ini kemudian menjadi bahan kritik dari Thaha Husein, mantan Menteri Pendidikan Mesir, bahwa dalam Islam Sunni (Ahlussunnah) tidak memiliki sistem politik dan pemerintahan yang jelas.


Saya pernah diberitahu bahwa Islam memiliki sistem syura dalam menentukan kepemimpinan dan memiliki ahlu ikhtiyari (tim penasihat) dalam menata kehidupan msayarakat. Jika benar mempunyai sistem tertulis tentang syura pasti kaum Muslim yang hidup pada masa Utsman bin Affan akan menggunakannya. Setidaknya untuk menyimpulkan sebuah keputusan agar tidak terjadi berbagai pertentangan. Ketika diselidiki ternyata tidak ada kejelasan sistem, tidak ada ketentuan siapa yang berhak dipilih, dan siapa yang menjadi pemilih. Bahkan tidak ada aturan, batas-batas yang mengatur peserta, dan kriteria untuk mendahulukan satu pendapat di atas pendapat lainnya.


Bahkan yang menarik setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib ra berkuasa, pemerintahan dipegang Muawiyah bin Abu Sufyan. Tidak merujuk kepada model sebelumnya, malah membuat sebuah kerajaan besar yang diwariskan turun temurun. Begitu juga Dinasti Abbasiyah sampai pemerintahan Turki Utsmani pun berbentuk kerajaan. Juga Arab Saudi yang merupakan pewaris dua kota suci: Makkah dan Madinah pun berbentuk kerajaan.


Karena itu, saya kadang bertanya: benarkah Islam punya sistem politik dan bentuk pemerintahan tersendiri? Biasanya orang akan merujuk masa Rasulullah saw. Namun, zaman Nabi pun tak jelas kalau diuraikan bentuknya karena bersifat kolektif dan demokratis. Saya kira Islam itu tidak punya bentuk dalam pemerintahan, hanya memberi nilai saja dan melapisinya dengan syariat Islam. Tentu dalam urusan syariat ini juga kalau diuraikan akan terjadi perdebatan lagi.


Sekarang ini kita mendengar, Polwan diberi kebebasan untuk pakai jilbab. Tentu bukan sebuah upaya Islamisasi karena lembaga-lembaga pemerintahan Indonesia milik semua warga dan untuk seluruh rakyat Indonesia.








sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/12/01/menyoal-politik-sahabat-nabi-muhammad-saw-615591.html

Arab Saudi dan Israel Mesra: Renungan Buat PKS dalam Religeopolitik Islam Pasca Perjanjian Iran-Barat


Perjanjian Nuklir Iran-Barat di Jenewa, Swiss, bulan lalu menimbulkan gejolak besar perimbangan kekuatan di Timur Tengah. Ekonomi Iran yang selama 10 tahun terisolasi mulai terbuka - perubahan yang disambut rakyat Iran. Barat pun yang megendorkan sanksi atas Iran sebagai imbalan pembatasan pengayaan uranium maksimal 5% - tingkatan pengayaan uranium paling rendah yang tak mampu digunakan sebagai bahan bom. Perjanjian interim 6 bulan di Jenewa ini bisa menjadikan pelajaran bagi Indonesia, c.q. PKS agar mampu melihat Timur Tengah secara utuh dalam nuansa damai antara Israel-Arab Saudi yang menyengat. Bagaimana memahami kemesraan Arab Saudi dalam kancah pemikiran ala Indonesia dalam perspektif religeopolitik Islam?


Sudah sejak usai perang tahun ‘67 - dengan kekalahan Pan Arab dan etnik Arab di Israel kehilangan Jerusalem Timur - perselingkuhan Israel-Arab Saudi-Amerika Serikat membangun aliansi ‘kebijakan politik seragam’ di Timur Tengah. Kebijakan Timur Tengah Arab Saudi selalu menunggu perkembangan reaksi Israel dan Amerika Serikat.


Contohnya. Terkait bangsa Arab-Palestina di Israel, Arab Saudi selalu mencari posisi PW (posisi weenak) yang menyenangkan Israel. Arab Saudi menjadi negara paling rasional setelah Mesir terkait hak-hak rakyat Palestina. Arab Saudi menyetujui dan tak mengecam pembantaian di kamp pengungsi Sabra-Shatilla oleh Israel tahun 1982 yang menewaskan ribuan orang Palestina.


Juga hak etnik rakyat Arab Palestina yang menjadi pengungsi di Syria, Tunisia, Libya, Mesir, Lebanon, Yordania, Arab Saudi, Iraq, dan sejumlah negara Teluk sejak pengusiran tahun 1970-an telah menguap dan tak pernah dibahas.


Strategi pengusiran penduduk etnik Arab di Israel dan pembangunan pemukiman oleh Israel sangat efektif. Pada saat yang bersamaan Israel mengundang pemukim Yahudi dari Eropa Timur, Etiopia, Amerika Latin, Amerika Utara untuk melakukan penyeimbangan jumlah penduduk. Palestina, suatu wilayah perwalian Inggris sejak kejatuhan Imperium Islam Turki, dihuni oleh mayoritas Arab dan minoritas Yahudi pada awalnya sebelum gerakan Zionist menang dengan mendirikan negara Israel tahun 1948.


Hak mendirikan negara Arab Palestina tahun 1947 yang dirancang yang memberi Arab 42% tanah keseluruhan Israel ditolak Pan Arab - maunya negara Israel dihapus dari muka Bumi. Kini, wilayah yang akan dijadikan negara Palestina hanya 23% dari wilayah yang ditawarkan pada 1947. Itupun wilayah dihitung termasuk jalan, tembok dan pemukiman Yahudi di dalam wilayah Palestina.


Kenapa Arab Saudi diam saja melihat perkembangan tersebut? Ada tiga alasan utama. Pertama, konflik Arab-Israel bukan tentang Islam-Yahudi. Ini konflik murni tentang tanah dan wilayah yang tumpang tindih selama ribuan tahun - belum pernah ada deklarasi negara Palestina atau Israel sampai Israel membentuk negara d wilayah yang sekarang disebut Israel-Palestina.


Kedua, rakyat Arab Palestina sejak lama bukanlah kelompok Arab murni yang memiliki ideologi keras Wahabi ala Arab Saudi. Islam-Arab Palestina baru belakangan mengeras setelah para teroris menguasai Gaza - dan sedikit Arab Saudi mengucurkan uang untuk Gaza, bukan Tepi Barat yang lebih sekuler. Namun bantuannya pun tak banyak karena harus menunggu persetujuan Israel - di samping memang tak memiliki keinginan membantu Arab Palestina yang berbeda keyakinan. Rakyat Palestina sebenarnya lebih maju peradabannya dibanding dengan Arab Saudi.

Ketiga, penguasa raja-raja Arab Saudi memiliki kesamaan ekstrimisme dalam berpikir dengan rezim Israel dalam bingkai alasan yang sama: ekstrimisme agama sebagai alasan. Yang satu, Israel membina Yahudi ekstrim, yang satu, Arab Saudi membina terorisme dan ekstrimisme Islam - dari mulai Osama, pemboman Menara Kembar WTC, Yaman, Afghanistan, Iraq, Syria, Libya, Mali - Arab Saudi mengekspor warganya menjadi kelompok pelawan pemerintah yang sah.


Di dalam negeri Arab Saudi tengah terjadi ‘revolusi diam’ yang sangat merongrong penguasa raja Arab Saudi. Sikap mendua mendukung ektrimisme di luar negeri namun membungkam gerakan melawan raja Arab di dalam negeri hanya termotivasi memertahankan kekuasaan Dinasti Keluarga Saud. Di sinilah antara lain alasan Arab Saudi bermesraan dengan Amerika Serikat.


Dalam kondisi seperti ini, Arab Saudi juga mengalami ketakutan terhadap Iran - negara paling kuat setelah Israel. Iran yang Syi’ah - sejak kejatuhan Syah Iran Reza Pahlevi tahun 1979 menjadi anti Amerika - menjadikan Iran sebagai ancaman terbesar bagi Arab Saudi khususnya penguasaan atas Mekah dan Madinah sebagai pusat Islam - yang mana Iran menghendaki kedua kota suci itu dalam genggaman Otoritas Islam Internasional sebagaimana usulan untuk Yerusalem.


Nah, dalam kondisi dalam negeri Arab Saudi, perbedaan ideologi, pertentangan antara kelompok Sunni-Syiah, kepentingan memertahankan kekuasaan Dinasti Saud - dari ancaman Iran dan kelompok radikal dalam negeri, menyebabkan Arab Saud tak ada pilihan lain selain bermesraan dengan Israel yang sama-sama memiliki musuh bersama: Iran.


Inilah yang harus menjadi pelajaran bahwa Arab Saudi - pusat pengekspor paham Wahabi seperti yang dianut oleh partai agama PKS yang presidennya ustadz Luthfi Hasan Ishaaq dan Ahmad Fathanah terlibat korupsi, PBB, HTI di Indonesia dan Ikhwanul Muslimin di Mesir - bahwa Arab Saudi menjadi sahabat Israel karena kepentingan duniawi: memertahankan kekuasaan Dinasti Saud. Jadi menggelikan sekali ketika di Indonesia banyak pihak membela Palestina dan menghubungkannya dengan Islam.


Padahal persoalan Palestina hanyalah soal perebutan tanah: soal duniawi yang tak ada hubungannya dengan sentiment agama. Maka rakyat Indonesia jangan mau dibodohi oleh partai agama PKS dan HTI serta elemen masyarakat lainnya yang mendorong kebencian antar umat beragama. Di Israel banyak hidup orang Arab dan Islam, demikian pula di Palestina banyak hidup orang Kristen, Katolik. Suha Arafat adalah penganut Yahudi. Jadi PKS dan kaum radikal belajarlah dari Arab Saudi yang mencintai Israel dan Amerika. Kemesraan Israel-Arab Saudi adalah realita perubahan religeopolitik kekuatan di Timur Tengah.


Salam bahagia ala saya.





sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/arab-saudi-dan-israel-mesra-renungan-buat-pks-dalam-religeopolitik-islam-pasca-perjanjian-iran-barat-615590.html

TERIMAKASIH YA ALLAH, KAU ANUGERAHKAN SEORANG ANAK (GURU) AUTIS KEPADA KAMI


Mungkin di antara pembaca artikel ini merasa aneh dengan judul di atas. Apalagi bagi orang-orang yang tidakmengenal atau mengerti lebih dekat tentang anak/orang yang menyandang sindrome Asperger yang salah satunya adalah “Autis”(Autism).



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/terimakasih-ya-allah-kau-anugerahkan-seorang-anak-guru-autis-kepada-kami-614696.html

Indonesia Sudah Memiliki Niat Baik Untuk mengatasi Intoleransi


(Tanggapan, Bukan Tentangan, Dari Artikel Bapak Nararya)




Menarik Pak ulasannya. Empat implikasi yang Bapak kemukakan untuk konteks kekinian menurut saya sudah tidak bisa “hanya” sebatas regional. Fenomea pemberian penghargaan pada SBY beberapa waktu lalu mengentalkan hal itu. Mudahnya akses informasi secara global, intrik politik, kepentingan SDA juga bisnis, dll mengaburkan setiap inti permasalahan kasus intoleransi di dunia. Begitupun dengan jumlah penganut, sangat sulit untuk menjadi penentu (kepastian) jika jumlah X berpotensi mendiskrimininasi jumlah Y.”



Paragraf di atas adalah komentar yang saya sampaikan di artikel Bapak Nararrya yang mengulas tentang intoleransi. Menarik sekali ulasan beliau tentang tema ini. Tema yang memang seharusnya didiskusikan dengan ruh untuk kebaikan bagi kehidupan berbangsa di negeri ini. Sebagai konsekwensi kesadaran yang utuh jika negeri kita realitanya memang Bhinneka. Kondisi sosial yang tidak perlu di keluhkan, dibentur-benturkan, apalagi diperuncing perbedaannya.



Empat Implikasi yang dikemukakan Bapak Nararya memang cukup ideal, meskipun ada yang masih terasa kurang tepat karena menyertakan jumlah pengikut sebagai ukurannya. Ukuran jumlah dalam melihat diskriminasi dan intoleransi, dalam kondisi budaya yang sudah lintas wilayah, dalam kasus-kasus tertentu menjadi kurang relevan. Bila bidikannya sebatas satu wilayah dengan jenis intoleran dari sisi fisik, mungkin masih bisa dimengerti. Tetapi ketika menyangkut perang opini dengan menyertakan segala potensi perangkat yang dimiliki, maka jumlah menjadi tidak lagi bisa menjadi picu kepastian.



Dalam perjalanan negeri ini, kita sudah memiliki pengalaman yang sempurna atas perbedaan beragama itu. Sebenarnya kita harus bisa membaca “niat baik” dari penghapusan piagam jakarta dan itu bisa menjadi picu keyakinan kalau Indonesia sudah berusaha sekuatnya menghapus intoleran yang berpotensi ada.



Gambaran kasar yang mengemuka di negeri ini selama beberapa tahun terakhir bukanlah unsich diskriminasi satu pihak ke pihak lain. Sangat jauh berbeda kasus yang terjadi di negeri ini dengan kasus-kasus yang pernah ada di belahan negeri lain, Rohingya contohnya. Hampir di semua kasus yang berbau intoleran, negara sudah berusaha masuk dan hadir. Apalagi sebagian besar elemen negarapun menanggapi kasus itu dengan berusaha berimbang dan jernih. Juga bisa dipastikan ada tindakan hukum di akhirnya.



Mengemukanya isyu intoleran yang ada seharusnya menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dikaji. Membaca kasus yang bias intoleran tidak bisa sebatas penglihatan satu sisi satu kepentingan. Ketika ada satu kasus yang sebenarnya sudah ada mediasi negara dengan melibtkan berbagai elemen yang berkepentingan tetapi terkesan berlarut bahkan mencuat sampai harus didengar ke negara lain, seharusnya menjadi kajian tersendiri. Ada apa?



Memposisikan kasus intoleran di negeri ini dengan penyalahan salah satu agama atau malah mencibir peran negara akan lebih mengangakan intoleransi itu sendiri. Praktek-praktek kejadian yang pernah ada lebih banyak bernuansa kasuistik, bisa juga karena faham di internal agama, juga tidak bisa dinafikan ada unsur lain yang ingin memanfaatkannya. Asumsi adanya unsur pemanfaatan itu adalah wajar karena tema ini cukup rentan untuk dicuatkan.



Ketepatan memposisikan kasus-kasus akan lebih memberikan kelegaan bagi negeri ini dalam menatap masa depan toleransi yang ada. Lebih dari itu menjadi penguat kekokohan bangsa ini di dunia sebagai negara besar yang besar pula perbedaannya tetapi berusaha mewadahi semua yang ada.



Pada prinsipnya, saya sepakat dengan ulasan intolerannya Pak Nararrya tersebut. Kalau toh harus saya paparkan lagi bukanlah untuk mencounternya, karena saya faham diri posisi keilmuan yang termiliki. Paparan ini lebih pada guratan konsep intoleran yang saya lihat dari sisi saya. Saya ingin menegaskan kalau ternyata kejadian intoleran di negeri kita tidak bisa dipastikan hitam putihnya sebagai produk diskriminasi yang masiv apalagi sistematis.


Semoga bermanfaat




Kertonegoro, 1 Desember 2013



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/indonesia-sudah-memiliki-niat-baik-untuk-mengatasi-intoleransi-612824.html

Mencari Ilham dari Budaya


Mencari Ilham dari Budaya

Oleh Riduan Situmorang

Berakhirlah sudah Forum Budaya Dunia yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali pada selang waktu 24-27 November 2013 yang lalu. Forum Budaya Dunia ini diharapkan mampu menjadi jawaban pada morat-maritnya penanganan kemanusiaan, ekonomi yang anjlok, politik yang brutal, serta sederet permasalahan pelik yang mengancam sisi humanitas lainnya. Melalui Forum Budaya Dunia ini, kita pun berharap mampu untuk meredam—bahkan menghilangkan—konfrontasi yang akhir-akhir ini makin masif terutama di daerah Timur Tengah. Intinya, dialog kultural ini harus menjadi salah satu senjata untuk memecahkan beberapa masalah. Hal itu tidak berlebihan karena manusia pada hakikatnya memang lebih mampu bertahan hidup bersama secara damai daripada bertahan hidup bersama dalam suasana yang penuh konflik dan kekerasan.

Tentu juga, dengan pelaksanaan Forum Budaya Dunia ini, kita diharapkan untuk mampu membawa pesan kemanusiaan kepada siapa pun, termasuk lintas agama, ras, bahkan lintas negara. Sekali lagi, itu tidak berlebihan karena memang budaya adalah simbol keberadaban manusia. Kita telah bersepakat bahwa manusia biadab sudah punah seiring lenyapnya zaman prasejarah berikut barbar. Kita pun telah bersepakat bahwa siapa pun di dunia ini mempunyai kedudukan yang sama. Tidak ada dikotomi superior dan inferior. Dan, secara logika tentunya hal ini akan bermuara pada penebalan rasa memiliki, bukan saling memusuhi yang walaupun pada praktiknya kita malah lebih sering menaruh rasa saling memusuhi daripada saling memiliki. Akhirnya, konfrontasi menjadi keniscayaan, penyadapan menjadi kebenaran, pemaksaan paham dan agama makin meruyak, pendsikreditan suku-suku minoritas seakan menjadi kewajiban. Satu kata saja: anomali.

Memilih Alternatif Pendekatan Kebudayaan

Lalu, untuk menghadapi anomali kemanusiaan inilah sejatinya forum bertema kebudayaan dunia ini dirancang. Mestinya, forum ini juga menjadi benih dan kabar kegembiraan bagi kita semua, terutama bagi mereka yang masih memiliki sisi humanitas dari berbagai ragam spektrum. Seperti kata Radhar Panca Dahana dalam Kompas edisi 26 November 2013 yang lalu, kehadiran forum kebudayaan ini menjadi semacam kegembiraan yang tidak bisa ditutupi karena ini menjadi sinyal positif bagi mereka yang belakangan ini mulai digerogoti dan telah dicap sebagai orang yang terbuang dalam virus-virus pesimisme. Karena itu, ini saat yang tepat untuk memilih alternatif pendekatan kebudayaan untuk memanusiakan manusia itu secara manusiawi.

Terutama di Indonesia, pendekatan kebudayaan menjadi salah satu alternatif untuk memecahkan masalah-masalah yang sangat sensitif karena pendekatan politik dan ekonomi yang selama ini kita gadang-gadang ternyata tetap berujung pada jalan buntu. Pendekatan ekonomi, misalnya, masih terkaveling dan seakan tercipta bagi mereka yang memiliki modal tebal. Akhirnya, negeri ini kembali didera kapitalisme, padahal dulunya kita begitu alergi terhadap paham kapitalisme. Alasannya jelas, dengan menganut paham kapital, jurang antara orang miskin dan orang kaya akan makin dalam sehingga terasa akan sangat mustahil untuk membangun jembatan pemerkuatan kedekatan emosional antara si miskin dan si kaya.

Tidak hanya kapitalisme, liberalisme, bahkan neokolonialisme mulai bersarang. Zaman perbudakan yang dulu sudah lama kita tanggalkan dari tubuh kita, sekarang kita malah balik mengadopsi sistem budak atau tepatnya neofeodalisme dengan memperlakukan orang-orang termarjinalkan sebagai budak. Lihatlah, begitu banyak TKI yang terkatung-katung di negeri lain. Nasib mereka tidak jelas. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang harus meregang nyawa. Padahal, menjadi TKI adalah bukan pilihan mereka. Itu keharusan. Ironisnya, mereka menjadi TKI lantaran di negeri kaya ini yang juga merupakan negeri mereka, mereka tidak diberi kesempatan untuk bekerja. Dengan kata lain, itu merupakan pilihan yang kita paksakan bagi mereka tanpa ada jaminan kuat untuk menjaga kenyamanan mereka. Apakah hal ini bukan merupakan wajah baru perbudakan? Lebih tajam lagi, apakah hal ini menjadi terjemahan bahwa kita memang sudah hijrah dari zaman jahilyah atau zaman kebiadaban menuju zaman keberadaban yang kita katakan berbudaya? Terus terang, saya sangat ragu!

Sama seperti pendekatan ekonomi—bahkan sebenarnya jauh lebih parah—pendekatan politik pun bopeng dan seakan tidak menyisakan jejak. Semuanya menguap tidak jelas. Politik yang sejatinya menjadi amanah diterjemahkan menjadi sebagai lahan untuk meraup kekayaan. Politik yang dulunya dianggap suci dan sakral seperti pada kamus John Calvin, seorang teolog Kristiani terkenal, ditransformasi menjadi arena para gladiator. Ingatlah, gladiator tidak akan selesai jika salah satu dari mereka—penantang dan sang juara, atau dalam politik antara koalisi dan oposisi—tidak tumbang, tepatnya tewas. Hanya saja bedanya mungkin adalah, kalau di arena gladiator yang mati adalah salah satu dari petarung, tetapi di arena politik yang mati bukan petarungnya, melainkan penonton, dalam hal ini rakyat. Akhirnya, rakyat pun kembali menjadi budak, terutama rakyat kaum kecil atau rakyat yang sengaja dikecilkan. Jika tidak mau menjadi budak, mereka akhirnya akan mati di pedang para politikus. Sekali lagi, ini adalah wajah baru dari penjajahan. Karena itu, hingga detik ini saya masih meragukan kebenaran apakah kita sudah berbudaya atau tidak. Saya pun masih meragukan apakah kita sudah beragama atau tidak, yang pasti agama tidak pernah melegalkan perbuatan yang tidak manusiawi, termasuk jihad untuk membunuh orang yang kita sebut kafir!

Menangkap Sinyal Positif

Jika pun kita mengaku sudah beragama atau berbudaya, saya yakin itu lebih pada penekanan kemalasan, bukan pada kesalehan. Kita mengaku Tuhan itu mahabaik, karena itu kita berdoa tanpa bekerja. Jika pun bekerja, kita lebih banyak mengambil jalan yang haram melalui korupsi, setelah itu, kita pergi ke rumah ibadah untuk meminta maaf kepada Tuhan mahabaik yang kita yakini akan selalu memaafkan kesalahan seberapa besar dan seberapa sering pun kita melakukan kesalahan. Anehnya, kita mengartikan Tuhan akan selalu mengampuni perbuatan korupsi yang telah kita lakukan. Karena itu, tanpa ragu, kita korupsi secara sadar bukan karena kemiskinan material, melainkan kemiskinan moral. Apakah ini perilaku manusia yang beragama dan berbudaya? Sekali lagi, saya sangat ragu!

Mengutip sekali lagi pernyataan Radhar Panca Dahana dalam Kompas edisi 26 November 2013 yang lalu, Forum Kebudayaan Dunia ini menjadi semacam kegembiraan yang tidak bisa ditutupi karena ini menjadi sinyal positif bagi kita yang sudah pesimis dalam bernegara. Apakah kita dapat menangkap sinyal positif itu? Apakah kita dapat melihat bahwa benih kebajikan akan berkecambah melalui benih kebudayaan? Bagaimanapun, saya—dan saya yakin masyarakat di dunia terutama di Indonesia—dapat menangkap sinyal positif itu. Masalahnya sekarang, apakah sinyal itu akan ditanggapi pemerintah secara serius atau malah sebatas acara seremonial dan formalitas belaka? Mari sama-sama berdoa untuk menjadi manusia beradab melalui pendekatan kebudayaan! Semoga!

Tentang Penulis

Nama : Riduan Situmorang

T. T. L. : Simandampin, 31 Desember 1987

Alamat: : Jl. Sering No. 100 A Medan

Kegiatan : Staff Pengajar Bahasa Indonesia di Prosus Inten Medan, Konselor Pendidikan di Prosus Inten Medan, aktif di KDM-KMK St. Martinus Unimed (Kelompok Diskusi Menulis)

No. Hp. : 085761434917



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/mencari-ilham-dari-budaya-614687.html

Pilpres 2014 !


Berapa bulan lagi Indonesia akna mengadakan Pemilu, dan Pilpres, banyak WNI yang berambisi positif dan negative sudah pasang kuda-kuda, berharap menjadi RI-1.


Secara kenyataan, ada berapa calon yang sudah/sedang dimunculkan partainya, antara lain :




  1. Golkar, dengan mengajukan capresnya arb, tapi belum ada cawapres yang bersedia mendampinginya karena cacad diperistiwa lumpur Lapindo, inginnya sih arb menggandeng Jokowi sebagai cawapres, tapi sudah ditolak mentah-mentah oleh Jokowi. Mengapa arb mau memilih Jokowi sebagai cawapres? Karena arb paham, dia pasti kalah, yang bisa dia lakukan adalah mencari pendamping yang bisa jadi presiden sebagai wakilnya, sehingga dia bisa “tertarik keatas” menjadi presiden RI 2014. Dia sedang mimpi siang hari bolong. Kelihatannya, Golkar masih bisa meraih ticket mengajukan presiden secara sendiri kalau tidak ada halangan.




  2. Gerindra, yang mengajukan prabowo sebagai capres, sama dengan arb, karena cacad namanya pada jaman order baru (menculik mahasiswa dan politisi anti suharto, serta sebagai otak peristiwa pembunuhan, penjarahan dan perkosaan Mei 1998). Hanya orang tolol dan tidak ada pengetahuan politik yang mau menjadi wakilnya. Saking susah cari wakilnya, prabowo minta para wartawan yang mencarikannya. Pendapat pribadi saya, untuk menyeimbangkan ke brutalan dan ke premannya, mungkin dia lebih cocok memakai ahok sebagai cawapresnya. Tapi ahok adalah seorang yang berambisi juga, belum tentu dia mau jadi cawapresnya prabowo, atau mungkin ahok yang jadi capres gerindra dan prabowo yang jadi cawapresnya? Gerindra belum tentu bisa meraih hak untuk mengajukan presiden secara sendiri.




  3. Hanura, yang mengajukan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo, akan turut bertarung. Modal dari Hanura adalah didukung oleh Hary yang memiliki jaringan statiun TV terbesar serta dana yang besar. Tapi saya kira Hanura tidak akan sanggup mendapat tiket untuk mengajukan presiden oleh hanya oleh partai Hanura. Kayanya ini kali Wiranto akan gagal lagi.




  4. PD, partai penguasa yang sekarang pamornya sedang pudar, posisinya sangat bahaya, kalo KPK rajin bekerja, tamatlah PD. Sampai sekarang PD belum sanggup mengajukan Capresnya. Pak Beye hanya berani menargetkan mendapat 15% suara pada pemilu 2014 . Itu bearti PD tidak bisa mengajukan presiden hanya oleh PD. Jika ternyata ibas terlibat kasus SKK migas, bukan mustahil PD bahkan tidak akan lolos PT. Untuk tahun 2014, capres dari PD tidak perlu diperhitungkan.




  5. Partai islam, sepertinya suaranya besar, tapi mereka tidak memiliki tokoh berpengaruh yang bisa diajukan sebagai capres. Mengapa? Karena pimpinan partai Islam sekarang tidak bisa melepaskan kultur/ajaran yang membolehkan beristri banyak. Sebagai pejabat yang gajinya terbatas, mau banyak istri dan hidup wajar, jelas tidak cukup, dan karena tidak culup itulah, dia terpaksa korupsi (contoh nyata lhi). Dan saya heran para petinggi partai Islam doyan kawin (mungkin terlalu banyak makan daging kambing) dan agamanya mengijinkan beristri banyak, kesimpulan saya, dari group partai Islam tidak perlu cape-cape mencari kandidat, karena capresnya tidak akan berhasil. Sudah bukan jamannya suatu negara yang berpenduduk banyak bisa dibangun hanya dengan dasar agama. Negara yang maju harus dibangun dengan moral, hukum dan ilmu tehnology.




  6. PDIP, satu-satunya partai oposisi, mempunyai calon yang paling kuat masa kini, yaitu Jokowi. Kelebihan Jokowi sebetulnya hanyalah jujur dan bersih , dan kemampuan dibidang management PNS. Kemampuan dibidang lain (khususnya kemacetan, belum tampak). Tapi anehnya karena gesekan klik kecil dalam tubuh PDIP, ada calon lain yang merasa lebih baik dan lebih berhak dari Jokowi. Sehingga belum tentu Jokowi akan dicalonkan . Jika PDIP mengajukan Puan Maharani, saya merasa tidak ada harapan, karena Puan masih terlalu hijau dan mudah emosi. Tapi PDIP akan menjadi partai pemenang jika Jokowi diajukan sebagai capres sebelum pemilu berlangsung dan juga akan memenangkan pilpres 2014. Dulu, keputusan Mega sering diganggu oleh TK, tetapi, sekarang Mega masih tidak bisa memutuskan apakah akan mengajukan Jokowi, karena mega masih ingin maju sendiri atau memajukan PM. Untuk pemilu 2014, kayanya tidak ada masalah PDIP akan menjadi partai yang boleh mengajukan Capres tanpa bantuan partai lain. Tapi, makin lama Mega bimbang, maka hasil kemenangan pemilu makin kecil.




Baca : (hampir 6000 hits)


http://politik.kompasiana.com/2013/08/08/apa-latar-belakang-ideology-blusukan-jokowi-mengapa-saya-katakan-jika-di-jaman-orba-gaya-jokowi-bisa-dianggap-komunis-oleh-suharto-582960.html


Dari peta diatas, jelaslah selain Jokowi, kandidat yang paling potensial adalah (secara urutan) prabowo-ahok (atau ahok-prabowo) dan arb-??.


Taktik kedua kandidat pesaing Jokowi adalah sama, menginginkan Jokowi menjadi cawapresnya, dalam skenarionya, jika Jokowi tidak bersedia menjadi Cawapresnya, maka skenario kedua akan maju, yaitu minta DPRD DKI untuk mencegahnya. Arb paling banyak hanya bisa melakukan sampai sini. Tapi prabowo masih bisa merusak Jokowi melalui orang gerindra didalam tubuh pemda DKI, misalnya mengeluarkan peraturan yang ekstrim, misalnya gusur orang secara kasar, cabut pentil, copot plat nomor kendaraan, membuat policy yang menguntungkan preman, sehingga dana yang diserahkan preman dapat mengalir ke partai (karena didalam gerindra ada raja preman herkules), sehingga partai punya peluru untuk serangan fajar, juga mengeluarkan ucapan bajingan dan lain sebagainya. Karena jokowi adalah komandan DKI, maka kesalahan policy walau diciptakan oleh wakilnya, akan menjadi tanggung jawab Jokowi , sehingga rakyat akan kesal dengan Jokowi. Saya dengar prabowo bahkan akan mengungkit-ungkitkan “ perjanjian batu tulis ” (kami belum tahu apakah benar ada perjanjian ini).


Jokowi bukan seorang superman, dia punya kelemahan, kalau dalam pemda DKI, semua jabatan harus diisi oleh PNS, maka Jokowi hanya bisa memilih dari PNS-PNS. Tapi , jika Jokowi presiden 2014, dia boleh memilih pembantunya (menteri) langsung diangkat dari orang yang berkemampuan, tidak perlu mengikuti hiraki PNS. Kelemahan Jokowi dapat ditutupi oleh para menterinya.


Memang, tidak baik Jokowi maju ke pilpres 2014 sebelum menyelesaikan tugas di DKI sebelum menyelesaikan masalah nomor satu MACET dan BANJIR , tapi, daripada negara dipimpin oleh prabowo atau arb, maka demi kebaikan bangsa, terpaksa Jokowi HARUS MAJU PILPRES 2014 !



sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/pilpres-2014--615580.html

PERMAINAN- PERMAINAN ANAK / REMAJA MINANG JADOEL MELATIH SPORTIVITAS



Pada masa lalu, ”sportivitas’ dalam permainan-permainan anak/remaja di Minangkabau merupakan sautu paradigma, paling tidak dari pengalaman penulis sewaktu kecil di kampung tidak pernah melihat dan mendengar ada yang melanggarnya. Begitu juga dari teman-teman sebaya yang kalau ketemu dan berceritera tentang masa lalu; membenarkannya bahwa pada masa lalu kami yang jauh berbeda dengan masa kini.


.Permainan-Permainan Remaja Masa Lalu


Berbagai permainan anak/remaja di Minangkabau pada masa lalu dan masih ada dalam ingatan penulis atau mungkin saja masih ada yang memainkannya pada zaman sekarang memerlukan sportivitas yang tinggi seperi:


- Main Sipuga (Main Basipuga)


Sipuga berasal dari akar kata ”puga” yang dalam bahasa Minang salah satunya berarti menhantam atau memukul dengan sungguh-sungguh atau dalam bahasa Betawi sama dengan ”sabet/sambit” dan awalan ”si / basi” berarti saling.


Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok yang terdiri dari 5 orang atau lebih per kelompok dengan menakai alat permainannya bola kasti yang terbuat dari karet keras dan bagian dalamnya dari sabut kelapa. Pemain yang memegang/menguasai bola boleh menyabet punggung salah satu lawanya yang terdekat sekuat tenaga. Jika si pemegang bola merasa tidak dalam posisi bisa menghantam lawan, dia akan mengoperkan bola kepada temannya yang punya posisi lebih bagus. Jadi dalam permainan ini akan terjadi oper-operan bola dan para pemain kelompok tentu akan berusaha merebut bola agar bisa menyabet pemain lawannya.


Orang dewasa sekali pun, jika punggungnya disabet dengan bola kasti sepert itu sudah barang tentu akan kesakitan, apalagi bagi anak-anak SD. Namun, bagaimana pun sakitnya pemain yang kena sabet, harus sportif dan tidak boleh emosional/marah. Satu-satunya yang harus dia lakukan adalah merebut /menguasai bola utuk membalasnya secara resiprokal.



- Main Kudo –Kudo Apik


Tim yang dalam permainan ini terdiri dari dua orang, seorang jadi kuda dan yang lain jadi jokinya. Pemain yang jadi kuda menggendong temannya, si joki dipunggungnya. Agar tidak jatuh si joki menjepitkan kakinya pada rusuk si kuda temannya. Jaki kata “apik” dalam judul permianan ini berasal dari bahasa Minang “sapik” (bhs. Indonesia = “sepit/jepit”).


Pasangan (tim) yang ikut permainan ini tidak terbatas, siapapun boleh ikut terjun ke lapangan. Dalam permainan ini setiap tim berusaha menjatuhkan dengan cara menendang lawannya. Agar jokinya tidak melorot si kuda memegang kedua kaki jokinya dan untuk menjatyhkan lawan si kuda juga mengarahkan hantaman/tendangan jokinya kearah lawan. Tim yang tangguh akan berlari sekeliling lapangan mengejar tim peserta lainnya. Joki yang tendangan yang bagus akan menjatuhkan lawan. Tim yang tumbang kena tendangan boleh langsung ikut kembali.


Karena permainan ini adalah permainan saling menjatuhkan, maka permainan hanya diadakan di lapangan berumput / tanah/pasir. Peserta yang kesakitan karena terjatuh ke tanah,si kuda atau pun si joki; harus sportif tidak boleh marah, jika mau membalas harus membalasnya secara resiprokal.


Sportivitas Dalam Permainnan Adalah Paradigma


Hampir semua permainan anak/remaja masa lalu, seperti dua permainan anak di atas, begitu juga dengan permainan-permainan lain seperti ”Tokok Lele”, ”Lakon Semba”, Main Kelereng, Main Anggar dan lain-lain berlangsung/dimainkan dengan penuh kejujuran dan sportivitas, karena sportivitas adalah paradigma. Dari pengalaman penulis tidak pernah terjadi perkelahian akibat permainan permainan tersebut di atas. Catatan : Pedang-pedangan dalam permainan anggar terbuat dari kayu.



Jadi, seperti penulis kemukakan di atas, sportivitas dalam permainan anak di Minangkabau masa lalu adalah paradigma yang tidak tertulis. Bahkan pada masa lalu sering juga terjadi perkelahian antara dua anak, saking capeknya berkelahi, akhirnya kedua pihak dari saat itu memutuskan/sepakat untuk bermusuhan berarti tidak bertegur sapa lagi. Saking dendamnya bisa saja mereka untuk memutuskan bahwa umtuk bermusuhan dan permusuhan mereka adalah ”Pamusuahan Taro Dangkuang” (”Permusuhan Metode ”Dangkuang”). Dalam bahasa Minang, kata kerja ”dangkuang/mandangkuang” bermakna memukul punggung seseorang dengan sekuat tenaga.


Anak-anak yang terlibat ”Permusuhan Taro Dangkuang” ini akan selalu berjalan meletakkan salah satu tangannya dipunggung, jika tidak atau lupa melakukannya, maka musuhnya berhak meninju punggungnya sengan sekuat tenaga. Biasanya anak-anak yang terlibat permusuhan jika telah melihat musuhnya datang akan berusaha bersembunyi sembari memantau kalau-kalau lawannya lupa menaruh tangannya dipunggung. Jika pada saat sang lawan berlalu kelupaan menaruh tangan di punggung, maka dia akan berkelebat keluar dari persembunyiannya menyerang / memukul bagian punggung musuhnya. Walau bagaimana sakitnya si penderita harus sportif./tidak boleh marah dan hanya bisa membalas lain waktu jika dapat peluang. Dari pengalaman penulis tidak pernah melihat/mendengar ada anak-anak bertinju akibat ”didangkuang” lawannya, karena permusuhannya sendiri bermula dari perkelahian yang tidak berujung. Biasanya permusuhan ini berlangsung tidak lama dan pihak-pihak yang bermusuhan akan bersepakat untuk mengakhirinya dan berbaikan kembali dengan ritual menyilangkan kelingking masing-masing dengan lawannya.


Penutup


Jadi banyak permainan anak masa lalu di Minangkabau dilakukan dengaan penuh sportivitas, bahkan permusuhan antar anak-anak saja di Miangkabau pada masa lalu harus dilakukan secara sportif, tidak boleh emosional/marah. Catatan: Hampir semua permainan diatas adalah permainan anak / remaja SD atau pada masa lalu disebut SR.






sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/permainan-permainan-anak-remaja-minang-jadoel-melatih-sportivitas-614670.html

Lebel Agama Lambang Kebodohan


Lebel Agama Yang anda Pakai Melambangkan Kebodohan.


Jangan dulu tersinggung yaaa,… pakai pikiran anda yang jernih, pakailah logika, sebab alam semesta ini diciptkan dengan hukum2 logika, hukum2 sebab-akibat, bukan hukum sim –silabim.


Mau contoh yaa. : sebatang pohon tumbuh dari sebiji benih. Setelah benih itu mendapat tanah, air, udara dan panas , dia tumbuh menjadi sebatang pohon.


Seorang manusia terjadi dari benih laki2 dan benih perempuan disatukan, terbentuklah janin manusia. Janin ini di eram dalam perut, dilahirkan, dipelihara,…. jadilah dia seorang manusia.


Demikian pula benda2 angkasa itu terjadi dengan hukum2 logika. Tentu ada yang bertanya yaaa, benih itu berasal dari mana,..? Benih itu terbentuk dari unsur yang berada dalam zat, bersamaan dengan terbentuknya alam semesta ini.


Unsur2 yang berda dalam zat itu asalnya dari mana ,..? tentu dari alam semesta yang sudah di hancurkan, semua unsur2 yang ada didalamnya kembali ke asalnya yaitu alam angkasa yang disebut sat itu. .


Apakah Sat itu juga terbentuk oleh hukum sebab akibat atau hukum2 logika,..? Sat itu adalah angkasa yang amat luas, mengandung semua unsur alam semesta dan unsur alam gaib seperti kesadaran murni.


Kesadaran murni yang ada dalam sat itulah yang menciptakan alam semesta ini dengan hukukm2 logika sebab akibat, oleh karena itu dia tidak berada dalah hukum2 logika yang di ciptkannya.


Kesadaran murni menciptakan alam semesta dan hukum2nya hanya dengan energy kehendak dijalankan oleh unsur intlegensia. Sama dengan seseorang yang melakukan meditasi atau Semedi, energy kehendak yang dipakaianya untuk menciptakan sesuatu benda, tidak terlibat dalam hukum2 logika.


Unsur kehendak dan intlegensia juga terdapat dalam manusia yang berlokasi di bathinnya. Jika bathinnya bersih dari unsur2 duniawi , unsur kehendak bisa bekerja, sehingga manusia itu bisa menciptkan sesuatu diluar hukum2 logika.


Manusia yang bathinnya masih kotor, mengikuti program agama, yaitu program kepercayaan, disesuaikan dengan program evolusi manusia. Program agama hanya untuk menuntun manusia menjalankan kehidupan ini, karena mata bathin mereka belum terbuka.


Jika bathin manusia mulai tebuka, imajinasi dan kecerdasan mulai tumbuh, program agama diganti dengan program Ilmu Pengetahuan, umat yang berada dalam program agama akan di daur ulang atau dimusnahkan, yang mereka sebut hari kiamat.


Manusia yang masih memakai label agama dalam zaman ilmu pengetahuan ini, dikatagorikan sebagai manusia bodoh, atau manusia kuno, manusia zaman lampau, sekalipun dia menyandang gelar sarjana tetap bodoh, karena otaknya tidak bisa memahami logika. Mungkin orang ini pintar dapat menghafal dan menulis seribu buku , semua itu hanya ketrampilan fisikal saja, sama dengan computer,


Untuk melepas lebel agama anda, bukan dengan cara menjadi atheis, tetapi dengan membersihkan otak anda agar bisa berfungsi normal, sehingga dapat melihat logika yang menciptkan alam semesta ini. (madeteling@yachoo.com).



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/lebel-agama-lambang-kebodohan-614666.html

Harga Jual Seorang Teman


13858549901305532598

http://sekarcantix.blogspot.com



Anda semua mempunyai teman bukan? Jika anda merasa memiliki banyak teman, tentunya anda juga pernah merasa kehilangan seorang teman. Jika dipikir-pikir, teman itu layaknya pembeli, dan kita sebagai penjualnya. Pembeli akan datang ketika ia merasa memiliki perlu kepada penjual. Perlu untuk membeli sesuatu yang anda jual misalnya.


Coba kita kembalikan ingatan kita pada saat dimana kita kehilangan seorang teman yang kita sayangi. Kerap kita mengucapkan kalimat seperti ini, “Dia cuma mau datang (berteman) ketika ada butuhnya saja, jika tidak ada butuhnya ya pergi.” Kalimat tersebut terdengar sedikit sadis dan terlalu menyalahkan sang teman yang sedang pergi membelakangi kita. Jika kita melihat dari sisi si sakit hati, maka yang akan kita lihat adalah suatu bentuk pemahaman jika selayaknya teman haruslah ada, baik saat ia membutuhkan sesuatu maupun tidak.

Nah, bagi pembaca yang kebetulan pernah mengalami hal ini, mari kita ulas suatu alasan kepergian teman yang terkesan kejam itu melalui logika yang sehat.

Berhubungan dengan kata Butuh, kita tahu dan sangat faham jika setiap orang, setiap makhlukNya mempunyai suatu kebutuhan terhadap dunia diluar dirinya. Kata ‘butuh’ biasanya kita jodohkan dengan kata ‘ingin’. Misalnya, “Saya ingin membeli gula-gula,” akan berbeda maknanya dengan kata “Saya butuh membeli gula-gula.” Artinya, kebutuhan adalah sesuatu yang memang penting untuk dipenuhi, sedangkan keinginan sifatnya masih sekunder dan bisa di pending. Tapi siapa nyana jika ternyata memenuhi keinginan juga merupakan suatu bentuk memenuhi kebutuhan akan rasa ingin itu sendiri. Sebenarnya ada yang luput dari bahasan ini, yakni kebutuhan bukan hanya berkisar pada kebutuhan materialistik saja, tapi juga psikologis manusia.

Setiap manusia membutuhkan seorang teman. Jika anda pernah belajar ilmu sosial, manusia merupakan makhluk sosial yang tak bisa lepas dari manusia, bahkan makhluk yang lainnya. Inti dari pembahasan di atas adalah bahwa kebutuhan memang benar-benar penting untuk dipenuhi.

Sekarang hubungannya dengan pertemanan. Anda pikir, untuk apa anda berteman dengan orang yang anda anggap cocok untuk anda jadikan sebagai teman? Anda pikir, untuk apa mereka mau dan bersedia berteman dengan anda? Sekarang anda pikir lagi, mengapa salah satu dari mereka tiba-tiba menjauh dari anda? Mengapa tiba-tiba mereka menjadi musuh anda? Atau bahkan mengapa mereka bisa tiba-tiba tidak menjadi siapa-siapa dalam hidup anda? Jawabannya hanya ada satu, Mereka berteman dengan anda ketika mereka butuh, dan meninggalkan anda ketika tidak membutuhkan anda lagi.



Masih ingat dengan bahasan tentang kebutuhan psikologis? Dalam pertemanan, tidak dapat disangkal jika kita membutuhkan manusia atau objek lain untuk kita jadikan sebagai teman. Kita butuh teman untuk berbagi, mendengarkan ucapan kita, mendukung kita, dan lain sebagainya. Dan pertemanan dengan manusia akan berjalan hanya jika kedua belah pihak merasa masih membutuhkan kita. Pada saat mereka sudah tidak membutuhkan kita, baik sebagai teman bicara atau semacamnya, jelas mereka akan meninggalkan kita. Semua terasa bersifat alamiah bukan?

Sebenarnya dalam berteman, setidaknya dalam hal ini, kita hanya butuh untuk mempertahankan apa yang teman kita butuhkan pada diri kita tetap melekat pada kita. Kita sebagai orang yang enak diajak bicara misalnya, maka untuk menjaga agar teman kita tidak berlari adalah menjaga sifat enak diajak bicara tersebut tetap berada dan menjadi identitas kita. Maka, selama kita memiliki sifat tersebut, teman akan tetap merasa butuh terhadap kita, dan tidak akan berlari menjauhi kita.


sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/harga-jual-seorang-teman-612787.html

Korban Sitok yang Terpojok


Saat ini, media massa dan media sosial ramai membicarakan kasus dugaan tindak pelecehan seksual Sitok Srengenge terhadap mahasiswi RW. Saya tidak kenal Sitok Srengenge. Mendengar namanya pun tidak pernah. Ya, saya memang kuper dengan dunia sastra. Saya tidak peduli dia dari Komunitas Salihara, yang akrab dengan stereotype islam liberalnya. Bukan pula karena saya seorang aktivis HAM perempuan yang kritis. Saya tertarik mengikuti perkembangan kasus karena empati sesama perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual.


Soal cerita versi siapa yang benar, saya tak tahu. Awalnya saya tak mau ikut menghakimi dan sok tahu berkomentar kasus ini. Hingga saya menemukan salah satu komentar di media sosial yang isinya kira-kira begini “Kenapa sudah hamil 7 bulan baru melapor? Selama ini kemana saja?” Membaca komentar itu, saya spontan ‘berteriak’. Kalian pikir mudah menceritakan pelecehan seksual? Komentar tersebut jelas memojokkan korban.


Tidak semua orang bisa berempati dengan korban pelecehan seksual, hingga ia mengalaminya sendiri. Saya pernah dilecehkan saat kelas 4 SD. Pengendara motor tak dikenal menyentuh payudara saya ketika saya berjalan kaki di jalan raya dekat rumah. Kejadiannya hanya satu detik, karena pelaku langsung kabur dengan motornya. Untuk pelecehan seksual yang sepertinya terlihat ‘sepele’ itu saja, saya baru bisa menceritakan saat kuliah. DELAPAN TAHUN setelah kejadian. Kenapa? Trauma yang dialami akibat pelecehan seksual itu luar biasa. Marah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Malu dan merasa ‘kotor’ karena telah dijamah. Bingung harus mengadu pada siapa.


Bandingkan dengan kasus RW yang sampai hamil. Saya bisa membayangkan betapa berat trauma yang dia alami. Dihamili oleh pacar yang sudah jelas-jelas akan menikahi saja, seorang perempuan pasti malu luar biasa. Apalagi kalau kehamilannya karena diperkosa?! Mau melapor, pikir sejuta kali. Bisa-bisa malah dituduh jadi wanita penggoda dan perusak rumah tangga orang lain. Bagaimana menghadapi keluarga dan lingkungan sekitar? Bagaimana nasib janin yang dikandungnya? Kalau perutnya tak semakin membuncit, RW mungkin akan bungkam seperti saya. Beruntung RW punya support system. Dia akhirnya berani memunculkan kasus ini ke permukaan.


Pada kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan, korban sering kali disalahkan dengan berbagai alasan seperti “Salah sendiri kenapa pakai rok min?!” atau “Nggak mungkin sampai hamil kalau tidak mau sama mau?” Lalu, apa salah saya, yang ketika kejadian, dada saya bahkan belum tumbuh layaknya perempuan dewasa dan tentu saja saya mengenakan baju layaknya anak kecil? Apa salah RW yang ‘terpaksa melayani’ karena diduga terintimidasi oleh pelaku? Mental abuse itu jahatnya luar biasa loh. Bikin korban tak berdaya.


‘Korban’ lain yang ikut terpojok dari perbuatan Sitok tentu keluarganya sendiri. Sitok beruntung punya anak dan istri yang kelihatannya legowo. Setidaknya itu bisa dilihat dari surat terbuka yang dibuat putri Sitok. Seandainya saya berada di posisinya, saat ini pasti saya sedang kecewa berat atau mungkin benci dan dendam karena ayah saya melakukan pelecehan seksual dan terlebih lagi telah tega mengkhianati ibu. Saya salut dengan kedewasaan dan kebijakan seorang Laire yang tetap mendukung ayahnya. Tapi hal itu tidak mengubah pandangan saya terhadap perbuatan Sitok. Harusnya Sitok berpikir seribu kali bahwa tindakannya itu akan membuat malu dan kecewa anak dan keluarganya. Dan yang lebih penting lagi, seharusnya dia berpikir bahwa tindakannya itu merusak hidup dan masa depan orang lain: Korban.


Sekali lagi, sebagai sesama korban pelecehan seksual, saya berempati dan secara moral mendukung upaya RW menyelesaikan kasus ini hingga tersangka (bila terbukti bersalah) dihukum.



Pondok Gede, 1 Desember 2013,



Em.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/korban-sitok-yang-terpojok-615531.html

Dicari : Pencinta Alam dalam Arti Sesungguhnya


Akhir-akhir ini, entah kenapa ajakan untuk hiking (naik gunung) sedang membanjir. Tawaran ke Dieng, Bromo, atau Gunung Gede pun datang silih berganti. Aku sempat heran juga, tampaknya tawaran untuk berwisata ala pencinta alam saat ini lebih tren daripada tawaran untuk berwisata kuliner atau wisata belanja.


Hmm, akhir tahun lalu film “5 cm” sempat happening di bioskop-bioskop tanah air. Film karya anak negeri tersebut diadaptasi dari novel yang juga tidak kalah tenar. Mengisahkan tentang persahabatan sekumpulan anak muda yang berusaha menggapai impian mereka, film tersebut mengambil latar belakang Mahameru di hampir separuh durasi film. Penonton dibuat terkagum-kagum dengan pemandangan alam yang mempesona. Setidaknya membuat beberapa penonton langsung merencanakan perjalanan naik gunung selepas mereka keluar dari bioskop.


Yap, tak ayal film tersebut juga menjadi salah satu pemicu tren berwisata alam. Mendadak banyak muncul “pencinta alam dadakan”. Dahulu ketika kuliah, naik gunung adalah aktivitas yang tidak bisa dilakukan sembarang orang. Daya tahan tubuh dan stamina yang kuat sangat diperlukan ketika akan melakukan pendakian yang tidak bisa dibilang sebentar. Oleh karena itu, tidak banyak orang yang berbondong-bondong untuk meraih titel Mapala alias Mahasiswa Pecinta Alam.


Jauh berbeda dengan sekarang, pendakian bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan bahkan dalam kondisi tanpa persiapan sekalipun. Aku masih geleng-geleng saat ada seorang kawan yang memaksa melakukan pendakian ke Gunung Gede akhir pekan ini, padahal sekarang cuaca sedang tidak menentu dan baru pekan lalu dia keluar dari rumah sakit setelah opname beberapa hari akibat diare.


Satu hal lagi yang masih bergejolak dalam hati dan membuatku gusar. Pemberitaan tentang sejumlah lokasi pendakian yang menjadi kotor akibat ulah para pendaki yang tidak bertanggung jawab, membuatku bertanya-tanya, apa iya mereka cocok dibilang pecinta alam? Apakah mereka benar-benar mencintai alam dalam arti sesungguhnya?


Untuk apa repot-repot mendaki kalau kehadiran mereka justru merusak keseimbangan alam? Untuk apa kalian datang kalau hanya membuat lingkungan kami menjadi kotor? Lebih kalian kalian duduk manis depan layar bioskop dan menikmati keindahan kami dari kejauhan, jerit para “penghuni” pegunungan.


Mencintai alam bisa direfleksikan dengan berbagai macam cara yang sederhana namun bermakna. Semisal gunakanlah air dengan hemat dan biijak, buanglah sampah pada tempatnya, hemat penggunaan bahan bakar, mencegah pembuangan limbah ke laut, meminimalisasi penggunaan kantung plastik atau bahan-bahan lainnya yang sulit terdegradasi, dan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita mencintai alam dan peduli untuk menjaga keseimbangannya. Ya kan?


Silakan kita menikmati keindahan alamnya, tapi jangan lupa untuk menjaganya dan benar-benar mencintainya. Jangan hanya demi tren dan titel “pecinta alam” semata. Salam.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/dicari-pencinta-alam-dalam-arti-sesungguhnya-612791.html

Tetap Waras Di Jaman Edan


13858407781003174297


Pernahkah terbersit di benak Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1874), pujangga keraton Surakarta, bahwa bait yang ditulisnya dalam kitab Kolotido tetap populer hingga saat ini. Dalam kitab itu beliau menuliskan sebuah kalimat pertamanya berbunyi : Amenangi Jaman Edan – “Mengalami Zaman Gila”. Dengan rasa ketakjuban tiba tiba saya teringat dengan penulis besar budaya Jawa yang diangkat menjadi pujangga keraton Surakarta oleh Susuhunan Pakubuwono ke-VII saat berusia 43 tahun itu.



138584085913215287

Raden Ngabehi Ronggowarsito,lahir dan wafat, 14 Maret 1802 - 24 Desember 1873) Sumber Photo : jasyaro.blogspot.com



Semuanya berawal dari berita santer mengenai rencana adu jotos seorang penasihat hukum dengan anak musisi tersohor. Selama dua hari saya membaca berita tersebut di harian Suara Merdeka 29-30 November. Tak habis pikir. Ketakjuban pada Ronggowarsito lebih kepada kondisi negeri ini seolah mirip dengan perenungan beliau tentang zaman gila. Padahal olah pikir tentang jaman edan ini terjadi lebih dari seratus lima puluh tahun lalu.


Bukankah suatu zaman sinting manakala seorang bapak mengijinkan, bahkan berniat memfasilitasi anak remajanya bertarung dengan orang dewasa. Bukankah jaman yang gendeng tatkala orang dewasa meladeni tantangan duel anak kecil berusia empat belas tahun. Menang ora kondang,kalah ngisin isini (Kalau menang tidak akan menaikkan martabat dan membuat tersohor, namun kalau kalah justru memalukan serta menurunkan martabat).


Gendeng,sinting, edan atau apapun istilahnya menjadi semakin gayeng (riuh) ketika seorang advokat malah menawarkan hadiah untuk pemenang “pertandingan” tinju itu.Untunglah ibu anak remaja itu masih waras dan berpikiran lurus, meminta maaf atas kelancangan anaknya. Walhasil baku jotos di ring tinju yang sedianya dilaksanakan 30 November itu batal digelar. Masih ada satu orang, yang saya yakin waras sewaras warasnya, yaitu ketua lembaga nasional yang mengurusi perlindungan anak. Ketua lembaga ini mengecam rencana adu jotos ini karena tidak mendidik, bahkan menanamkan kebencian pada anak.


Ronggowarsito juga mempunyai karya lain berjudul Jokolodang. Karya ini juga memotret situasi tidak menyenangkan, keadaan gila. Contoh kongkritnya kita bisa melihat dalam kondisi sekarang. Mangsa lembaga anti korupsi yang tertangkap sungguh nyolong pethek (di luar dugaan). Dalam Jokolodang beliau mengatakan banyak orang yang baik dan luhur penampilan luarnya, namun sejatinya mereka jahat. Wong alim pulasan,njobo putih njero kuning-orang yang kealimannya seperti cat, di luar putih tetapi di dalam kuning.


Dalam sebuah obrolan lewat pengirim pesan BB, seorang kawan yang menjadi auditor selama tiga belas tahun pernah merumuskan bahwa 80% orang brengsek yang tertangkap saat audit selalu mengejutkan. Di luar profile,begitu katanya. Yang tampak brengsek dan benar benar brengsek hanya 20% an kurang lebih.


Terakhir kali ketika teman ini menemukan penggelapan sekitar 100 juta di salah satu kantor cabang. Pelaku penggelapan inilah yang setiap pagi memimpin doa dan memperdengarkan cakram padat (CD) lagu rohani sepanjang hari. Keseringan menangkap orang yang alim pulasan, kawan ini menjadi tidak percaya pada simbol yang nampak. Di akhir obrolan, kawan ini menulis “jangan biasa melihat kulit, selalu gali lebih dalam”


Adakah lagi hal hal gila lain? Ingatlah perilaku edan seorang artis beberapa tahun yang lalu ?, Adegan panas mengantar artis ini ke penjara. Gara gara video pornonya dengan artis lain, tersebar luas. Melihat ke-edan-an itu semua orang bergumam “ e..ternyata”


Ronggowarsito kala itu tidak hanya mengemukakan penilaiannya tentang jaman edan, namun juga memberikan satu nasehat : Dilalah karso Allah,begjo begjone kang lali,luwih begjo,kang eling lan waspodo –“Tetapi sudah menjadi kehendak Tuhan,betapa beruntung pun orang yang lupa,masih lebih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada”.


Petuah ini jelas sekali menunjukkan jalan selamat menjalani kehidupan di jaman gila. Pada awalnya para penilep uang negara itu mungkin dianggap khalayak sebagai orang “beruntung” (jawa:begjo) karena hidup berlimpah dan terhormat dalam strata sosial. Walaupun untuk keberlimpahan dan kehormatan itu mereka menempuh jalan salah. Pada saat terjerumus ke jalan salah itulah mereka “lupa” (jawa : lali). Lupa bahwa hidup selamat haruslah menempuh jalan yang benar.


Yang kita saksikan di media, orang orang yang menempuh jalan salah dan dianggap “beruntung” itu pada akhirnya menjadi pesakitan dan masuk bui.


Orang yang selalu ingat kepada sang Pencipta dan senantiasa waspada serta berhati hati menjalani kehidupan akan lebih beruntung daripada orang yang “lupa”. Hal ini sudah menjadi kehendak Tuhan, demikian menurut Ronggowarsito,


Semoga kita tidak termasuk orang orang seperti dalam seloroh ini,”Jaman Edan ,Sing Ora Edan Ora Kumanan (Jaman Edan, Yang Tidak Edan Tidak Kebagian)”


Ditulis Rikho Kusworo selesai jam 02.10 dini hari Minggu 01 Desember 2013.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/tetap-waras-di-jaman-edan-614645.html

Orang Miskin Dilarang Hidup!


Sekitar setengah bulan lalu saya menjenguk kawanku yang terbaring tak sadarkan diri (koma) di ruang ICU RS Hasan Sadikin, Bandung. Ia bersama kawannya tertabrak mobil saat mengganti ban mobil di ruas Tol Cipularang. Kawannya langsung tewas di tempat. Sementara ia masih bisa diselamatkan di bawa ke rumah sakit. Delapan tulang rusuknya patah. Menurut diagnosa dokter, di otaknya terdapat darah beku.



Ketika saya menjenguknya, ia sudah dioprasi. Delapan Tulang rusuknya sudah disambung. Namun, kondisinya masih tak sadarkan diri. Tangan dan kakinya terkadang bergerak-gerak. Matanya sesekali melek.Tenggorokannya disobek untuk memasukkan selang oksigen. Saya tak tega melihatnya. Sebelum pulang saya membisiki agar bersabar dan mengingat Tuhan (menurut suster yang duduk disampingnya, ia sebetulnya sudah bisa mendengar).



Seminggu berikutnya saya mendapat kabar ia akan dibawa pulang. Saya sedikit gembira. Saya menyangka ini kabar baik: kondisinya sudah membaik sehingga boleh dibawa pulang dan berobat jalan. Ternyata keliru, ia disuruh pulang (Mungkin lebih tepanya diusir!) karena jatah Askesnya habis! Sedangkan pihak keluarga sendiri tak mampu membayarnya. Bagaimana mungkin mereka harus membayar ratusan juta sementara pekerjaan suaminya hanya sebagai kernek mobil pengangkut batubara Cirebon-Bandung?



Terus terang saya marah. Saya hanya bisa marah karena tak bisa berbuat apa-apa. Ini negara apa/siapa? Di sini mausia tak ada harganya sama sekali. Ironisnya, di tengah kondisi seperti ini, banyak pejabat publik yang dengan mudahnya merampok uang rakyat miliaran bahkan triliunan rupiah (Hampir semuan pejabat yang tertangkap KPK masih bisa tersenyum dan tertawa lebar. Sesekali mereka harus dibawa ke ruang ICU dan disuruh melihat orang-orang sakit yang ada di sana. barangkali sj sadar). Jelas sekali kita bukan negara miskin!



Sebelum di bawa pulang, saya mendapat kabar Tuhan memanggilnya. Dalam pikiran saya timbul petanyaan aneh: ia dipaksa meninggal atau memang sudah waktunya meninggal. Istri dan seorang anaknya pasti bersedih dan sangat terpukul oleh kejadian ini.



Semoga Tuhan mengampuni dosanya dan memberinya tempat yang layak di sisiNya. Selamat tinggal, kawan! Jangan lupa katakan pada Tuhan: di Indonesia orang miskin tak boleh hidup!



Catatan: pastinya kasus serupa sudah terjadi berulang kali. Jawaban pemerintah pun begitu-begitu saja. Kita butuh revolusi!!!



@Jamal_Moh



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/orang-miskin-dilarang-hidup-614636.html

Soal Capres, Partai Besar yang Logis Hanya PDIP


Kemarin, Sabtu (30/11/2013), Ketua Umum PDIP, Megawati kembali menegaskan bahwa capres resmi PDIP akan diumumkan setelah pemilu legislatif (pileg) (Kompas). Suatu keputusan yang sangat bijaksana. PDIP sama sekali tidak tergoda oleh suara-suara dari berbagai kalangan untuk segera mencapreskan Jokowi.


Soal waktu penentuan capres, dari beberapa partai besar sepertinya hanya PDIP-lah yang berpikiran logis. Kebijaksanaan yang sebenarnya diambil berdasarkan logika yang sangat sederhana.


Sudah jelas bahwa partai atau koalisi beberapa partai berhak menentukan capres yang diakui Komisi Pemilihan Umum (KPU), apabila mereka memperoleh 25 persen suara atau 20 persen kursi di DPR.


Namun dengan tingkat percaya diri yang “luar biasa”, partai-partai besar seperti Partai Golkar dan Hanura telah berani menentukan capres dari partainya sendiri. Demikian juga partai-partai lainnya yang telah mengisyaratkan akan mengumumkan capres resminya sebelum pileg, seperti PKS dan Partai Demokrat.


Hebat dan pantas diberikan tepuk tangan jika memang mereka berhasil memenuhi syarat. Nah, jika tidak? Mau dibawa kemana “muka” mereka?


[-Rahmad Agus Koto-]


Artikel Terkait


Argumen Pencapresan Jokowi Setelah Pemilihan Legislatif


Empat Skenario, Strategi Cerdas PDIP!


Jokowi Ahok dan Aku




sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/12/01/soal-capres-partai-besar-yang-logis-hanya-pdip-614629.html

Akhir Pekan Bersama Kompasioners


Jelang akhir pekan kita masih saja menemui berita, rupiah mendapatkan banyak tekanan. Tekanan juga datang dari kenaikan permintaan dollar Amerika Serikat (AS) menjelang akhir bulan. Belum lagi tumpukan pekerjaan dan rutinitas yang dijalani membuat tekanan di kepala semakin berat. tak hanya masyarakat biasa, para konglomerat juga mengalami hari kerja penuh tekanan dari Senin hingga Jumat.


Tekanan menjadi menu harian. Tekanan telah merasuki semua sendi kehidupan manusia. Di bidang ekonomi ada tekanan pasar kepentingan, Jusuf Kalla : Century, Skandal Perampokan Sistemik.pasar. Di bidang politik dalam tekanan kekuasaan, Febrialdi: Andaikan Antasari Azhar Ketua KPK,Budi yang Ono Sudah Jadi Tersangka!


Belum jauh berselang, di bidang hukum terasa tekanan peradilan, Chrysmawan : Kasus Dorter. Ayu Cs: Air Susu Dibalas Air Tuba. Kasus ini di bidang sosial media menuai tekanan pro kontra. Di bidang Olahraga muncul tekanan prestasi, Hery: “Semua Demi Merah Putih, Persipura dan Arema Tampil di Piala AFC 2014”. Sajian penulis di kompasiana secara samar ada tekanan sepi pembaca, Wijaya Kusumah : Ketika Tulisanmu Sepi Pembaca.


Tekanan telah menjadi realitas verbal. Kini ada gejala tekanan kejiwaan. Gejalanya sama. Semakin banyak hiburan, semakin banyak yang menekan. Banyak yang menghibur diri, namun makin tak terhibur. Hanya karena harinya yang libur maka banyak orang berlibur namun perasaannya tidak. Ada. Banyak yang pergi berlibur, namun jiwanya tidak ikut berlibur. Hiburan dicari, tekanan mencari-cari.


Melacak jejak tekanan saja salah arah. Sebetulnya kita dilahirkan dalam tekanan. Itulah puncak ketegangan masa lalu. Kalau pun harus melakukan mewujud dan mengalami transformasi dalam bentuk lain.Tekanan itu terurai dalam wajah keindahan. Tekanan itu tak tergantikan, meski ada tekanan lain.


Tekanan dalam batas tertentu menuai ketegangan. Ketegangan itu ibarat penonton, tegang hanya karena kita tidak ikut bermain. Tegang itu tidak berarti keras. Keras itu pula tidak otomatis tegang. Tegang yang tak keras itulah sukses kejiwaan. Semoga tidak terintimidasi. Ketegangan tidak selalu benar.


Tekanan telah membonceng ketegangan di tempat yang sakral. Tak ada ketegangan yang cetar membahana. Pembeda menyatu. Dan pesonanya melahirkan kenikmatan. Selamat akhir pekan.


salam kenal tuk kompasioners



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/akhir-pekan-bersama-kompasioners-615510.html

ASUS Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon


ASUS Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon - Asus merupakan vendor besar dalam dunia Smartphone, Tablet, Laptop, dan masih banyak lagi produk Asus yang mengusai pasar saat ini, mereka selalau berinovasi dengan produk mereka. Kali ini mereka megeluarkan Sebuah yaitu Asus Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon. Sebuah produk yang didalamnya telah ditanamkan Operating system (OS) Android Jelly Bean 4.1. Di produk ini Asus mengekplorasi kemampuan mereka untuk menghadirkan sebuah produk yang akan membuat kita merasakan akan kepuasan dalam berteknologi, produk ini menghadirkan fitur-fitur canggih yang siap untuk kita jelajahi dalam mencapai rasa puas dalam teknologi.


13858342111336534777


Biasanya sebuah tablet untuk bisa menjelajahi internet hanya menggunakan WiFi, namun sayangnya di Indonesia saat ini, belum tersedianya WiFi yang memadai dalam sejumlah tempat tertentu misalnya didaerah pedesaan. Hal ini akan menjadi hambatan bagi pengguna bagi yang tinggal didaerah yang tidak terjangkau oleh sinyal WiFi. Hal inilah yang mendorong Asus mengeluarkan sebuah produk yang mempunyai fitur yang canggih ini yaitu Asus Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon ini, sebuah tablet yang mampu menjelajahi internet dengan jaringan 3G, ini akan membuat kita lebih leluasa untuk menjelajahi dunia tanpa batas ini yaitu internet tanpa harus dibatasi lagi dengan tidak adanya sinyal WiFi.


Asus Fonepad Tablet 7 Inci Dengan Fungsi Telepon ini dimotori oleh prosesor Intel Atom Z2420 Lexingtondengan kecepatan 1.2GHz, yang didukung oleh fitur-fitur yang canggih, perangkat ini juga mampu melakukan panggilan suara, SMS, MMS, Paket data, yang mana Asus Fonepad Tablet 7 Inci Dengan Fungsi Telepon ini mempunyai fitur yang canggih dan mempunyai fitur layaknya sebuah smartphone.


Asus Fonepad Tablet 7 Inci denga Fungsi Telepon ini mempunyai lebar laya 7 inci dengan resolusi HD 1280×800. Perangkat ini juga dilengkapi dengan kamera yang mumpuni untuk mengambil gambar dan video untuk mengabadikan moment spesial kita, perangkat ini disertai dengan Kamera utama 3MP auto focus, dan 1.2MP kamera depan, yang artinya kita dapat mengambil gambar dengan sangat mudah menggunakan perangkat ini.


Asus Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon ini dilengkapi dengan internal memory sebesar 8GB dan atau 32GB, bagi yang belum cukup dengan ini, kita juga bisa menyematkan microSD sampai dengan 32GB.



Harga Asus Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon , bicara soal harga Asus Fonepad Tablet 7 Inci dengan Fungsi Telepon ini dibaderol dengan harga Rp. 2.999.000 dan untuk yang kapasitas 32GB adalah Rp. 3.699.000. Dengan harga segitu anda sudah bisa mempunyai sebuah Tablet yang canggih, yang bisa kita gunakan untuk telepo, sms, dan mms juga.



sumber : http://teknologi.kompasiana.com/gadget/2013/12/01/asus-fonepad-tablet-7-inci-dengan-fungsi-telepon-612751.html

Demo, unjuk kekuatan komunitas


Jengah sekali saya membaca berita-berita tentang demo dokter. Ada sebagian yang pro, tapi lebih banyak yang kontra pastinya. Ada perasaan sedikit kecewa dari dalam diri saat melihat foto-foto demo di Bundaran HI. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, ada apa dengan dokter Indonesia? Sudah lupakah mereka dengan sumpahnya? Tapi setelah membaca banyak berita mengenai demo dokter, saya jadi cukup mengerti apa yang mereka rasakan saat ini.


Demonstrasi adalah salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi ataupun pendapat ke suatu instansi atau masyarakat luas. Sebenarnya masih banyak cara menyampaikan pendapat selain demo, tapi mungkin memang cara inilah yang akan menarik perhatian lebih cepat dan mungkin akan lebih cepat juga hasilnya. Setiap komunitas pastilah membawa kepentingan diri mereka masing-masing. Misalnya saja dokter dengan tuntutan tinjauan hukum praktek dokter dan kenaikan anggaran kesehatan ataupun buruh dengan kenaikan gaji dan kesejahteraan para buruh. Tak ada yang salah sebenarnya dengan tuntutan mereka.Hanya sayangnya cara mereka memang terlihat salah.


Demo seringkali menjadi jalan akhir yang dipilih untuk suatu komunitas untuk menyampaikan aspirasi yang mereka punya. Kita, sebagai masyarakat dan orang diluar komunitas, biasanya memandang demo sebagai cara-cara yang tidak elegan untuk menyampaikan pendapat. Padahal mungkin saja mereka sudah mengupayakan melalu cara lain sebelum melakukan demo besar-besaran. Ingat kejadian Mei 1998? Demo besar-besaran terjadi karena para demonstran, terutama mahasiswa, tidak tahu lagi bagaimana caranya agar pendapat mereka bisa didengar dan sampai kepada para petinggi negara. Akhirnya mereka melakukan demo besar-besaran. Walaupun mereka tahu akan merugikan orang banyak, tapi mereka juga punya tujuan tertentu pastinya.


Begitu juga dengan para buruh, guru, dan dokter. Mereka juga punya pendapat yang ingin didengar. Dan tentunya mereka ingin yang terbaik untuk teman-teman sejawat mereka. Mereka menuntut keadilan untuk komunitas besar mereka. Sebenarnya mereka hanya butuh keadilan. Bukannya mereka egois. Mereka hanya ingin lebih dihargai dan diberikan sesuatu yang lebih untuk pengabdian mereka selama ini. Tak bisa kita pungkiri kalau setiap manusia pasti ingin dihargai. Dengan penghargaan yang lebih, pasti mereka akan mengabdi lebih untuk negeri ini.


Kadang kita sebagai bagian luar komunits-komunits tersebut hanya melihat aksi mereka dari sisi yang sempit. Kita berkomentar negatif tentang aksi-aksi yang mereka lakukan tanpa mengetahui pokok permasalahan dan tujuan baik dari aksi mereka tersebut. Dan sayangnya media lebih senang menyorot berita-berita negatif yang memancing konflik, daripada berita-berita positif yang akan memotivasi masyarakat Indonesia. Padahal setiap aksi yang mereka lakukan pastilah punya tujuan yang baik, setidaknya untuk komunitas mereka sendiri. Yang harus kita lakukan hanyalah mencoba mengerti dan tidak perlu banyak berkomentar. Biarlah mereka melakukan aksinya. Toh mereka sudah pikirkan baik dan buruknya, karena demo adalah jalan terakhir dan aksi besar. Tidak mungkin dilakuakn tanpa perhitungan.


Setiap kelompok punya persepsi sendiri-sendiri mengenai suatu hal.

Yang pasti apapun yang mereka lakukan bertujuan untuk kebaikan, setidaknya untuk diri mereka sendiri.

Jadi berselisih pendapat antar kelompok itu wajar, tak usahlah dibesar-besarkan..

Nanti juga terlihat mana yang benar dan mana yang salah.

Beda pendapat boleh, tapi tetap damai.

Semoga apa yang mereka perjuangkan, akan didengar oleh para penguasa. Saya yakin mereka tidak punya maksud jahat dalam tiap aksi mereka. Hanya ingin menggertak sedikit. Sedikit saja. :)


Salam,


Bella Vlinder



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/01/demo-unjuk-kekuatan-komunitas-613934.html