promosi bisnis online gratis

PKN, Pekan Kondom Nasional, Arus Pendek dalam Sebuah Kebijakan Publik


Pekan Kondom Nasional merupakan program yang digagas Kementerian Kesehatan dan dilaksanakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) serta salah satu produsen kondom selama sepekan, yaitu tanggal 1 hingga 7 Desember 2013. Program yang merupakan rangkaian peringatan Hari AIDS se-Dunia di Indonesia tersebut dilakukan dengan membagi kondom secara gratis di lokasi-lokasi yang rentan terjadi perbuatan mesum (hotspot).


Program yang menelan anggaran sampai 50 milyar rupiah itu menggunakan artis seksi Julia Peres sebagai model (endorser) nya tersebut menghentak keras nurani bangsa Indonesia, sehingga banyak menuai opini kontra. Terlebih foto sensual tunangan pemain sepak bola dari Argentina, Christian Gaston Castano, tersebut menghiasi mobil bus kampanye PKN.


Tujuan program PKN memang manis, yaitu untuk mengurangi penyebaran virus HIV/AIDS dengan membagikan kondom gratis di tempat-tempat yang berisiko penularan virus HIV/AIDS di Indonesia. Akan tetapi jika diluri lebih jauh, program tersebut seolah memberi kesempatan bagi para pelaku seks bebas untuk tetap melanjutkan perbuatan tercelanya. Melalui penyediaan kondom gratis kepada masyarakat akan menjadi pembelajaran bagi masyarakat, bahwa seks bebas diperbolehkan sepanjang seks bebas tersebut dilakukan dengan menggunakan kondom.

Pembelajaran yang sangat bertentangan dengan budaya bangsa yang menganut demokrasi pancasila, yaitu kemanusiaan yang beradab.


Program PKN tersebut seolah menyentak hati bangsa dan masyarakat, karena bertentangan dengan ideologi dan nurani bangsa. Program yang menunjukkan betapa pendeknya pola pikir sebuah kebijakan dalam mengurus bangsa. Dengan berdalih bahwa penggunaan kondom lebih aman untuk mencegah penularan penyakit kelamin, tetapi tidak memperhatikan nilai dan norma serta budaya bangsa.

Mungkin ada beberapa hal yang terlupakan saat pencanangan program tersebut, sehingga program tersebut melupakan banyak sisi yang seharusnya dipertimbangkan dalam merencanakan, menyusun, dan mengimplementasikan sebuah kebijakan, program, dan penentuan anggarannya. Apalagi kebijakan tersebut menyangkut kepentingan publik yang memiliki karakteristik, ideologi, bilai, dan norma yang dianut dan disepakati bersama. Oleh karena itu, sudah menjadi keniscayaan bahwa sebuah kebijakan yang dirancang seyogyanya meliputi kerangka kerja yang terdiri atas tujuan, nilai, sumberdaya, pelaku pengambil kebijakan, lingkungan, dan strategi. Dengan meminjam model implementasi kebijakan George C Edward III yang mengemukakan adanya faktor penghambat dan pendukung keberhasilan implementasi kebijakan publik, maka dalam perancangan dan implementasi kebijakan, komponen kebijakan publik yang harus diperhatikan komunikasi (mengomunikasikan tujuan dan kepentingan, survei, konsultasi, dan sebagainya), sumberdaya, sikap pelaksana, dan struktur birokrasi. Yang ditambahkan oleh Meter dan Horn bahwa implementasi kebijakan meliputi standar dan tujuan, sumberdaya, dan kondisi lingkungan.

Kembali kepada pencanangan program Pekan Kondom Nasional yang digagas oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut, maka dengan timbulnya kontroversi yang menusuk nurani bangsa tersebut, terlihat dengan nyata adanya ketidaksesuaian antara kebijakan yang diambil dengan kondisi lingkungan, budaya, dan nilai bangsa. Yang secara tidak langsung menunjukkan masih adanya pengambilan keputusan dalam penentuan kebijakan yang masih pincang dari satu sisi untuk menegakkan sisi lain yang berarus pendek dan berjangka lebih pendek lagi.



sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/03/pkn-pekan-kondom-nasional-arus-pendek-dalam-sebuah-kebijakan-publik-615133.html

PKN, Pekan Kondom Nasional, Arus Pendek dalam Sebuah Kebijakan Publik | Unknown | 5

0 komentar:

Posting Komentar